Tukang Becak Naik Haji: Tak Pernah Patok Tarif, Nabung Sejak 2004


Berapapun pendapatan seorang Muslim atas profesinya, bukanlah penghalang untuk pergi haji ke Tanah Suci. Asal ada niat dan ikhtiar, dengan kehendak Allah, bukan mustahil untuk menjalankan ibadah yang membutuhkan dana tak sedikit itu.

Itulah pelajaran dari Samsunur, seorang tukang becak asal Kota Solok, Sumatera Barat. Pria 58 tahun yang tinggal di Kelurahan Aro IV Korong, Kecamatan Lubuk Sikarah ini akhirnya bisa berangkat untuk naik haji tahun 1440H/2019M.

Samsunur mengungkapkan, pekerjaannya sebagai penarik becak tidak menghalangi niatnya untuk menunaikan ibadah haji. Walaupun penghasilannya sekitar Rp 40 ribu – 75 ribu per hari, ia mengaku, tetap bisa menyisihkan penghasilannya sejak 2004 demi mewujudkan cita-citanya ke Baitullah.

Ia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dengan menyisihkan dari hasil kerjanya sebagai tukang becak.

“Anak saya belum bisa membantu, karena ada yang sudah berkeluarga tapi baru cukup untuk keluarganya,” tuturnya.
Bersyukur tak terkira bagi Samsunur dan istrinya, Kasmawati (55). Penantian dan perjuangan mereka sekian lama tuntas sudah. Tahun ini, semoga perjalanan ibadahnya lancar, mereka berdua segera menunaikan ibadah haji bersama.

Samsunur dan Kasmawati mendaftar haji pada tahun 2011. Seharusnya, suami-istri yang sama-sama lansia ini mendapat jatah berangkat pada tahun 2020.

“Tapi Alhamdulillah dimajukan menjadi 2019,” ujar Samsunur di Solok, didampingi istrinya.

Samsunur bertutur, selama 34 tahun menjadi tukang becak, dulu ia memakai becak kayuh pada 1985. Nanti pada tahun 2007, baru ia memakai becak motor, yang dibeli atas hasil dia menabung sedikit demi sedikit untuk mengganti becak tuanya.

Satu hal menarik lagi. Berbeda dengan penarik becak lainnya, Samsunur mengaku tak pernah mematok tarif. Berapapun pemberian atas imbalan jasanya, ia menerimanya dengan lapang dada. Prinsipnya, rezeki sudah ada yang mengatur besar-kecilnya.

“Semua yang bisa saya angkut muatannya, pasti saya bantu dengan tarif sesuai pemberian mereka. Tidak saya patok, terkadang diberi Rp 5 ribu, Rp 7 ribu bahkan lupa dibayar juga pernah,” ungkap pria ramah bersahaja ini.

Rupanya, sistem “bayar seikhlasnya” bagi setiap pelanggannya ini membuat Samsunur disukai banyak orang di pasar dan yang memakai jasanya.

Keistiqamahannya menarik becak pun membuatnya memiliki langganan orang-orang di pasar. Misalnya, penjual sate, bubur candil, buah-buahan, serta petani untuk mengangkut pupuk atau benih, orang menjual baju dan lainnya.

Samsunur hijrah ke Solok pada tahun 1985 saat menikahi Kasmawati. Awalnya, sang istri membantu keuangan rumah tangga dengan berjualan makanan ringan seperti kerupuk kuah di depan rumah. Namun, sejak operasi kista tahun 2010, Kasmawati tidak lagi berdagang kerupuk.

Seiring waktu, mulai tahun 1995, Samsunur tak lagi membawa becak dengan menunggu di pasar. Bukan berarti ia berhenti menjadi tukang becak. Tetapi, ia beralih menunggu orderan di rumahnya saja.

Walaupun hidupnya bersahaja, ayah lima orang anak ini tak pernah mengeluh untuk dapat mewujudkan tekadnya menunaikan haji sebagai rukun Islam kelima.

Juni lalu sebelum manasik haji, Samsunur mendapat kabar dari salah satu rombongan haji lainnya bahwa jatahnya berhaji dimajukan ke tahun 2019. Samsunur dan istri tercintanya pun berangkat haji pada Rabu (10/07/2019) menuju Embarkasi Padang, sebelum kemudian bertolak menuju Baitullah.

Cerita berbeda dialami oleh Neng Sarah, 23 tahun. Jika Samsunur dan istri dimajukan keberangkatannya ke Tanah Suci, maka Neng Sarah justru dimundurkan alias tertunda.

Sebagaimana diberitakan hidayatullah.com sebelumnya, Neng Sarah, jamaah calon haji batal berangkat ke Tanah Suci karena diketahui tengah hamil muda, sehingga dipulangkan dari Embarkasi Bekasi.

Warga Kampung Babakan Nagrog, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat ini sebelumnya tergabung dalam kloter 02 Cianjur. Ia diketahui tengah hamil muda setelah menjalani tes kesehatan lanjutan di Embarkasi Bekasi.

“Hasil pemeriksaan calon haji tersebut, dalam keadaan hamil muda sekitar dua minggu, sehingga rentan terjadi hal yang tidak diinginkan dan terpaksa dipulangkan dari Embarkasi Bekasi,” ujar Kasi Haji Kementerian Agama Cianjur, Tavip Supriadi di Cianjur, Selasa (09/07/2019).

Sementara jamaah lainnya, atas kehendak Allah, tidak bisa pergi menunaikan ibadah haji karena lebih dulu dipanggil ke Rahmatullah.

Memasuki hari keenam kedatangan jamaah haji gelombang satu di Tanah Suci, tercatat sudah 64 kloter tiba di Madinah Al Munawwarah, Arab Saudi.

Berdasarkan Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) pada tanggal 11 Juli 2019 (06.32 WAS) dirilis Kementerian Agama, sebanyak 26.007 jamaah haji telah mendarat di Madinah.

Sedangkan jamaah yang meninggal dunia masih tercatat sebanyak 3 orang. Yaitu Khairil Abbas Salim (BTH 2), Mudjahid Damanhuri Mangun (SOC 4), dan Sumiyatun Suwikromo Sutardjan (SOC 2).* Antara/MCH

[hidayatullah.com]

Iklan Atas Artikel

SPONSOR

Iklan Tengah Artikel 1

Sponsor

Iklan Tengah Artikel 2

SPONSOR