Belajar Menghadapi Masa-masa Sulit Lewat Kisah dalam Al-Quran

Belajar Menghadapi Masa-masa Sulit Lewat Kisah dalam Al-Quran


Dalam masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, hingga saat ini depresi agaknya masih sulit untuk diterima sebagai sebuah penyakit yang dapat diobati. Mungkin karena masih dianggap tabu, atau terlalu abstrak, tidak seperti penyakit fisik yang dapat kita lihat keberadaannya.

Kita seringkali skeptis memandang depresi sebagai penyakit karena kurang iman, atau kurang mensyukuri hidup. Lantas apakah Islam juga memandangnya demikian? Mari kita belajar dari beberapa kisah dalam Al-Qur’an.

Pertama, kisah Nabi Ya’qub AS. Kita mungkin sudah tidak asing dengan kisah Nabi Ya’qub AS yang kehilangan penglihatannya karena kesedihan memikirkan anaknya Yusuf AS. Beliau tahu betul bahwa saudara-saudara Yusuf AS telah merampungkan skenario kemungkaran, membuang yusuf ke dalam sebuah sumur tua, dan mengatakan bahwa mereka khilaf telah meninggalkan Yusuf sampai akhirnya dimangsa serigala.

Meski demikian, Ya’qub AS tak punya pilihan kecuali melepas Yusuf pergi bersama saudaranya. Beliau paham janji Allah akan senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Namun air matanya tidak dapat terbendung saat memikirkan bagaimana kiranya nasib anaknya Yusuf, yang bertahun-tahun tidak jua terdengar kabarnya. Kesedihan berkepanjangan membuat ia perlahan kehilangan penglihatannya.

Di sisi lain, Allah tengah membentuk Yusuf menjadi pribadi yang kuat. Diberi ujian bertubi-tubi. hingga kelak saat dewasa diamanahi sebagai Wazir (bendahara) di Mesir. Menyelamatkan warga dunia dari kelaparan akibat kekeringan panjang. Kisah tersebut tertuang secara detail dalam surah ke-12 dalam Al-Qur’an, yaitu surah Yusuf.

Kita juga pernah mendengar kisah Maryam yang dikaruniai anak, Nabi Isa AS. Dalam perjalanannya mengandung, dihujani dengan cacian bertubi-tubi dari orang-orang yang menggapnya telah melakukan kehinaan. Hingga diceritakan pada surah Maryam, ia akhirnya memutuskan untuk mengasingkan diri. Rasa sakit sewaktu melahirkan memaksanya bersandar pada sebuah pohon kurma. Hingga ia berfikir bahwa kematian mungkin akan lebih baik daripada menanggung semua beban itu.

Meski dalam kondisi yang sepayah itu, Allah SWT tak serta-merta menurunkan bagi Maryam bantuan dari langit. Allah SWT justru menyuruhnya berusaha. Berusaha menjatuhkan buah kurma dari pohonnya meski tengah kepayahan.

Konon pohon kurma dikenal sebagai sebuah pohon yang kokoh. Beberapa orang laki-laki saja akan kepayahan menggerakan batangnya, apalagi menjatuhkan buahnya.

Ada lagi kisah Nabi Muhammad SAW, the most suffered man in this world, yang meskipun begitu kita tidak pernah mendengar beliau mengeluh. Pada masa itu, Nabi SAW telah lama tidak mendapat wahyu dari Allah SWT. Lantas orang-orang kafir mencelanya dengan mengatakan bahwa Tuhannya telah meninggalkannya dan tidak lagi menginginkannya sebagai nabi.

Surat Adh-Dhuha merupakan surat yang berisi dukungan kepada Rasulullah SAW. Surat ini turun dengan permulaan ayat yang berbunyi ‘waddhuhaa” yang artinya pada waktu pagi saat matahari tengah naik sepenggalan. Waktu dimana orang-orang tengah bersiap-siap bekerja.

Waktu ini merupakan masa orang yang sedang depresi, kesulitan untuk berpindah dari tidur dan memulai aktivitasnya. Di sisi lain, waktu dhuha merupakan waktu munculnya cahaya matahari terbaik, dengan kandungan vitamin D nya yang dikenal dapat membantu pemulihan depresi.

Ayat kedua “Dan demi malam apabila telah sunyi”. Malam merupakan waktu untuk beristirahat saat kita sudah kelelahan sepanjang hari. Sementara bagi orang yang tengah mengalami depresi, malam dapat menjadi waktu yang sangat panjang, dipenuhi perasaan bersalah, overthinking, dan tidak jarang kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur sehingga menjadi tidak vit untuk kembali memulai hari esok.

Pada ayat selanjutnya, Allah memberi reassurance kepada Nabi SAW bahwa Allah tidak meninggalkannya dan tidak membencinya seperti yang dikatakan oleh orang kafir, bahwa akhirat lebih baik baginya daripada segala yang ada di dunia.

Ayat selanjutnya menegaskan kembali bahwa selama ini Allah memang tidak pernah meninggalkannya. Meski beliau terlahir yatim, Allah SWT yang menjamin pengasuhannya. Meski ia sendirian dan tidak tahu apa-apa, Allah yang menunjuki baginya jalan kebenaran. Meski ia dalam kondisi kekurangan, Allah SWT juga yang mencukupi segala kebutuhannya.

Obat dari fase terendah dalam kehidupan manusia adalah ketika kita dapat melihat orang-orang yang jauh lebih kesusahan daripada kita, yaitu anak yatim dan orang miskin. Serta tetap berusaha membantu mereka meski kita juga tengah kekurangan.

Pada akhir surat Ad-Dhuha, Allah SWT memerintahkan untuk tidak berlaku sewenang-wenang kepada anak yatim, tidak menghardik orang yang meminta-minta, serta senantiasa berusaha bersyukur – karena meski kita tengah berada dalam kepayahan, Allah masih memberikan nikmat yang tak terhitung jumlahnya, dan selalu ingat bahwa ada yang lebih kepayahan dari kita, sehingga kitapun harus selalu berusaha membantu mereka.

Dari ketiga kisah di atas, dapat kita ambil pelajaran bahwa, Allah memberikan kesulitan untuk menjadikan kita lebih kuat. Karna sejatinya hidup di dunia adalah pertarungan melawan diri sendiri, agar selalu mengusahakan menjadi hamba-Nya yang bertaqwa.

Meski kita tengah kepayahan, seperti berada dalam fese terendah dalam hidup kita, tidak semestinya kita berhenti dan menyesali diri, justru kita harus menjadi lebih kuat, lebih optimis, dan tidak berhenti berusaha membantu orang yang lebih kesusahan dari kita.

Kita harus percaya, Allah selalu ada dan mendengarkan doa-doa kita, tidak pernah meninggalkan kita sendirian. Meskipun kita berbuat kesalahan, ingatlah wallahu yaghfiruzhzhunuuba jamii’a –  dan Allah SWT mengampuni semua dosa.

Ada masa dalam hidup kita semua masalah rasa menusuk dari segala arah. Rasanya ingin berkata cukup. Namun, selagi nafas masih bisa berhembus, merupakan kesempatan bagi kita untuk mengusahakan yang sebaik-baiknya. Jikalaupun tak bisa, mungkin masanya kita belajar bertahan dengan sebaik-baiknya pertahanan. Menyelesaikan semuanya meski jauh dari kata sempurna.

Tetaplah melangkah, meski perlahan, pada masanya kita akan sampai.

Semoga Allah SWT senantiasa menguatkan kita dalam setiap langkah kehidupan kita, membersamai kita dalam kesabaran, dan meneguhkan keimaanan dalam hati kita. Aamiin.

Wallahu a’lam.

Sumber: islam.co

Iklan Atas Artikel

SPONSOR

Iklan Tengah Artikel 1

Sponsor

Iklan Tengah Artikel 2

SPONSOR