'Kiamat' Ada di Mana-mana, Waktu Kehancuran Bumi Makin Dekat?

''Kiamat' Ada di Mana-mana, Waktu Kehancuran Bumi Makin Dekat?'

Dalam beberapa waktu terakhir, perbincangan mengenai kiamat tengah ramai dibicarakan. Bahkan, ramalan soal kiamat kerap kali muncul ke telinga publik.

Lantas, seberapa dekat dunia dengan kiamat?

Bulletin, sebuah organisasi non-profit telah membuat jam imajiner bernama Doomsday Clock atau jam kiamat. Jam kiamat ini dibuat pertama kali tahun 1947. Yakni hasil kerja sama BAS, lembaga yang didirikan Albert Einstein, serta para mahasiswa Universitas Chicago.


Saat pertama kali dibuat, jam itu diatur 7 menit sebelum tengah malam. Namun seiring berjalannya waktu jam telah diatur beberapa kali mendekati dan menjauh dari waktu kiamat atau tengah malam.


Perhitungan itu berdasarkan berbagai aspek. Mulai dari bahaya nuklir dan perubahan iklim, serta penyebaran disinformasi dunia maya hingga teori konspirasi yang membuat adanya perang nuklir.


Saat ini kam Kiamat masih menunjukkan waktu yang sama dalam tiga tahun berturut-turut. Panel ahli dalam Buletin Ilmuwan Atom memutuskan jam itu terhenti di angka 100 detik sebelum tengah malam pada 2022.


Para ahli menyoroti soal ancaman perang nuklir, perubahan iklim dan penyakit mematikan sepanjang tahun lalu. Meski menunjukkan kestabilan dan ada hal positif terjadi tetapi juga ada aktivitas negatif terjadi di tahun lalu.


"Jam Kiamat masih stabil pada 100 detik hingga tengah malam. Tapi stabil bukanlah kabar baik," kata Sharon Squassoni, profesor Universitas George Washington dan ketua bersama dewan Buletin Atomic Scientists (BAS), dikutip dari The Guardian, Minggu (25/9/2022)


"Faktanya mencerminkan penilaian dewan bahwa kita terjebak dalam momen berbahaya, yang tidak membawa stabilitas maupun keamanan".


Beberapa perkembangan positif tahun lalu misalnya keputusan memperpanjang perjanjian pengendalian senjata antara Rusia dan Amerika Serikat (AS), dimulai kembalinya pembicaraan soal program nuklir Iran, dan pemerintah AS yang percaya tentang perubahan iklim serta berjanji melakukan tindakan mengurangi emisi global.


Di sisi lain, di dunia sedang ada tren investasi berkelanjutan oleh negara besar dalam persenjataan nuklir mereka. Selain juga tidak adanya kemajuan dalam diskusi nuklir Iran dan lemahnya tindakan global mengatasi darurat iklim.


"Jam Kiamat tidak ditentukan oleh niat baik, tetapi bukti tindakan atau dalam hal ini kelambanan," jelas profesor ilmu politik di Universitas Stanford, Scott Sagan.


Dewan juga memerhatikan ancaman biologis terkait pandemi Covid-19. Asha M. George, direktur eksekutif Komisi Bipartisan Biodefense, mengatakan pandemi memaparkan kerentanan manusia pada peristiwa biologi.


Dia menyebut kemungkinan ada pandemi lain setelah pandemi saat ini berakhir. Ini ancaman dari langkah keamanan tidak memadai dari laboratorium yang bekerja dengan patogen berbahaya, serta bahaya dari program senjata biologis.


"Negara di seluruh dunia setidaknya harus memperkuat kemampuan mereka memantau penyakit menular," ungkapnya, dikutip dari Al Jazeera.


"Tidak peduli apa sumbernya, mereka harus berasumsi wabah yang terjadi di negara lain tidak akan tetap ada di sana dalam perbatasan atau wilayah mereka. Dan mereka harus mengambil tindakan luar biasa sekarang sebelum program senjata biologis menghasilkan perang biologis".


Sebagai informasi, Doomsday Clock tak berhubungan dengan ramalan kiamat. Namun, ini jadi pengingat akan ancaman bumi rusak parah karena ulah dari manusia itu sendiri. Tengah malam menjadi acuan akan rusak parahnya bumi.


Sumber

Iklan Atas Artikel

SPONSOR

Iklan Tengah Artikel 1

Sponsor

Iklan Tengah Artikel 2

SPONSOR